Tahap awal yang penting dari seluruh rangkaian kegiatan penanganan pasca panen jagung adalah pemanenan. Panen yang kurang tepat akan berpengaruh pada jumlah dan mutu hasil. Pemanenan yang terlalu awal mengakibatkan banyaknya jumlah biji/kernel muda sehingga mutu biji dan daya simpannya rendah, sedangkan panen yang terlambat mengakibatkan penurunan mutu dan peningkatan kehilangan hasil.
Tanaman jagung dapat dipanen setelah tanaman berumur 95-105 HST (di dataran rendah) dan 115-130 HST (di dataran tinggi), tergantung pada varietas jagung yang ditanam. Tanaman jagung siap panen dapat dilihat berdasarkan penampilan visual tanaman, ciri-cirinya yaitu: sebagian besar daun dan bagian tanaman yang lain mulai mongering; klobot jagung berwarna coklat muda dan kering; bila klobot dibuka, biji keras, mengkilat dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas pada biji; ada tanda hitam (black layer) pada pangkal bijinya sebagai tanda biji sudah masak fisiologis; serta kadar air biji 25-35%.
Setelah panen, jagung dipipil dan dipisahkan dari janggelnya. Pipilan jagung dikeringkan sampai kadar air mencapai 15% kemudian jagung siap dijual di pasaran.
|