Pioneer
Ruang Media

Jagung Hibrida P27, Satu Hektar Bisa 9 Ton

Jagung hibrida merupakan salah satu komditas yang banyak dikembangkan petani di Lampung, khususnya Kabupaten Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Timur. Varietas ini cocok ditanam pada berbagai musim, baik hujan maupun kemarau.

Meski begitu, pemilihan benih yang tepat menjadi faktor utama kesuksesan petani jagung. benih hibrida yang dipilih para petani tentunya berkualitas baik dan mampu menghasilkan produksi panen tinggi. Salah satu jenis benih jagung hibrida yang banyak digunakan para petani Lampung adalah Pioneer (P) 27 Gahaj dari PT. DuPont Indonesia.

District Sales Manager PT. DuPont Indonesia Lampung, Anton Sugiyipranoto menerangkan, P27 Gajah memiliki semua karakteristik jagung hibrida yang diinginkan petani. Sebut saja hasil panen tinggi, tahan bulai dan penyakit daun lainnya, serta memiliki batang dan perakaran yang kuat. Selain itu, tetap dapat berproduksi baik di kondisi cuaca ekstrem dan lahan kurang subur.

"Kami memahami kondisi cuaca yang tidak menentu. Curah hujan tinggi maupun kondisi lahan kurang subur. Kendala-kendala itu sama sekali tidak berpengaruh jika petani menggunakan benih P27, yang dapat diandalkan dalam kondisi tanam tidak menguntungkan dan memberikan produtivitas terbaik," katanya kepada Tribun pekan lalu.

Diungkapkannya, petani yang menggunakan benih P27 untuk satu kali masa panen mampu menghasilkan 9 ton jagung per hektare. Idealnya panen dilakukan pada saat jagung berumur 110-115 hari. Pada umur tersebut, kadar air dan kualitas jagung sangat baik.

Jagung yang siap panen, klobotnya berwarna cokelat muda dan kering, serta bijinya mengilap. Selain itu, ada tanda hitam pada pangkal bijinya. Setelah panen, jagung dipipil dan dikeringkan sampai kadar air mencapai 15 persen. Kemudian siap dijual kepada pemborong dengan harga layak.

Sales represnetative PT. DuPont Indonesia Lampung, Danu Prasetya mengatakan, harga jagung pipil dari petani kepada pemborong berkisar RP 2,400 - Rp 2,500 per kg. Harga tersebut terbilang bagus melihat hasil panen yang dihasilkan petani sekitar 9 ton per hektare.

"Karena harganya bagus, sering petani sudah panen pada hari ke-90 karena permintaan pemborong cukup besar. Padahal, idealnya hari ke-110 baru bisa dipanen. Tapi, ya kembali ke harga jual, petani dapat uang banyak dan gak repot juga panen jagungnya dan pipil, karena dilakukan para pemborong," terang Danu.

Dengan panen sebanyak 9 ton dan harga Rp 2,500 per kg, petani jagung bisa memperoleh penghasilan Rp 22,5 juta. Menurut Danu, harga jual yang tinggi dan penggunaan benih jagung hibrida P27 dapat meningkatkan kesejahteraan petani jagung di Lampung. Berdasarkan data PT. DuPont, petani di Lampung Timur dan Lampung Tengah paling banyak yang menggunakan benih P27.

"Sejak benih ini diluncurkan kali pertama pada September 2010, lebih dari 2,000 petani di Lampung Timur dan 1,500 petani di Lampung Tengah merasakan manfaat menggunakan P27 dibanding benih lainnya. Petani di kabupaten lain sudah melakukan langkah serupa dan diharapkan semakin banyak lagi petani jagung yang menggunakan benih ini," harapnya.

Tribun Lampung, 9 May 2011

EA1F99BD-3AC8-B841-610E-6F64C3F83949