Pilih lokasi di Kabupaten Malang. Produksi benih jagung hibrida Pioneer Indonesia menyumbang 30 persen di ASEAN.
Malang - PT DuPont Indonesia menanamkan investasi USD 1.1 juta untuk memperluas fasilitas produksi benih jagung hibrida dan padi hibrida merek Pioneer menjadi delapan hektar di Bululawang, Kabupaten Malang.
Dengan perluasan tersebut, jagung hibrida Pioneer yang sebelumnya berkapasitas 10 ribu matrix ton (MT) per tahun meningkat menjadi 20 ribu MT per tahun. Sedangkan padi hibrida Pioneer, baru diproduksi dengan kapasitas 5.000 MT per ton per tahun.
Presiden Pioneer Hi-Bred International Paul Schicler mengatakan, Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara merupakan pasar yang potensial. Selain populasinya yang cukup besar, ekonominya tumbuh baik, emerintahnya kooperatif, juga stabilitas keamanan bagus dan kondusif. "Tenaga kerjanya terampil dan petani yang menjadi mitra kerja kami juga kooperatif," kata Schicler, di sela-sela peresmian perluasan pabrik, kemarin.
Di sisi lain, ia mengatakan jika pihaknya berkomitmen akan terus meningkatkan produksi pangan dunia dan terus menanamkan investasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selama ini, Pioneer yang berpusat di Amerika Serikat memiliki pangsa pasar jagung hibrida 55 persen di Amerika dan 45 persen di luar Amerika (pasar internasional).
"Trend negara-negara di luar Amerika terus berkembang, sehingga Pioneer berkomitmen akan terus membangun pabrik-pabrik di sejumlah negara berkembang yang pasarnya bagus. Produksi benih jagung hibrida Pioneer Indonesia menyumbang 30 persen di ASEAN," paparnya.
Country Manager PT Pioneer Indonesia Mardahana mengatakan, pihaknya mendukung program swasembada pangan dengan memberikan benih jagung dan padi hibrida Pioneer yang berkualitas untuk meningkatkan produksi petani.
"Setiap tahunnya kami bermitra dengan lebih dari 20 ribu petani. Dengan perluasan ini, kami berharap mitra Pioneer juga akan terus bertambah. Kami akan berupaya mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar benih jagung hibrida di Indonesia," kata Mardahana.
Di tempat sama, Dirjen Tanaman Pangan Sutarto Ali Muso menjelaskan, produksi jagung nasional menembus 17 juta ton per tahun dengan luas lahan 4 juta hektar. Produksi jagung terbesar berasal dari Jatim dengan kontribusi 30 persen.
"Kalau Pioneer mampu memproduksi benih jagung hibrida 20 ribu MT, berarti bisa memenuhi 25 persen kebutuhan nasional." ungkapnya.
Sutarto berpesan agar Pioneer menjual benih jagung hibrida Pioneer dengan harga yang terjangkau. "Dahulu pernah P21, salah satu varietas jagung hibrida Pioneer dijual Rp 70 ribu per kilogram. Pesan saya produk herkualitas, harganya juga harus terjangkau biar petani semakin sejahtera," kritiknya.
Lebih lanjut, Sutarto menyebut jika pemerintah akan mempertahankan swasembada sejumlah komoditas pertanian, seperti jagung, beras, dan kedelai.