Pioneer
Choose a Country
in_IDIndonesia

Pabrik Diperluas, Petani Ditawari Harga Kompetitif

Produktivitas Jagung Hibrida di Tanah Air yang Terus Dipacu


Market benih jagung masih menjanjikan. Potensi itu dibaca PT Pioneer untuk terus menggenjot kapasitas produksi benih jagung hibridanya. Bagaimana kiatnya ?

Konsumsi benih jagung hibrida di tanah air memang meningkat. Namun, dibanding negara lainnya, konsumsi di Indonesia masih tergolong rendah. Karena itu, PT DuPont selaku perusahaan penanaman modal asing (PMA), terus menjajaki pasar domestik lewat merek andalan mereka, Pioneer.

"Konsumsinya masih 30 persen. Padahal, di negara Asia lain seperti Filipina dan Vietnam sudah di atas 50 persen. Bahkan, di negara asal produsen benih Pioneer di Amerika Serikat sudah 100 persen," ucap Priyandono Hadari, production manager PT Pioneer Indonesia saat media workshop di pusat produksi benih di Kabupaten Malang kemarin (21/10).

Dia menjelaskan, kalau PT Pioneer Indonesia mulai fokus menggarap pembenihan jagung hibrida sejak 1985 di bawah kendali Pioneer Hi-Bred International. Lalu, perusahaan itu diakuisisi PT DuPont International, sehingga namanya berubah dari PT Pioneer Hibrida Indonesia menjadi PT DuPont Indonesia. "Awalnya, kami memiliki empat pusat produksi pembenihan, karena dinilai tidak menguntungkan, dua diantaranya ditutup," jelasnya.

Dua pabrik yang ditutup adalah pabrik Malang 1 yang berlokasi di kecamatan Gondanglegi, Malang dengan kapasitas produksi 10.000 metrik ton per tahun, dan Kabanjahe berkapasitas 4.000 metrik ton per tahun. Sedangkan dua lagi yang masih beroperasi adalah pabrik Malang 2 di kecamatan Bululawang.

Nah, karena pasar benih jagung hibrida produksi masih menjanjikan, perusahaan menem puh langkah perluasan pabrik. "Kapasitas pabrik Malang 2 yang dibangun 2001 lalu sebesar 10.000 metrik ton per tahun, sedangkan tahun ini kami memperluas pabrik yang satunya sehingga dapat memproduksi benih jagung hibrida sebanyak 10.000 metrik dan 5.000 metrik ton per tahunnya," ucapnya.


Dia mengatakan, market benih hibrida masih dikuasai Jawa dan sisanya menyebar di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan serta sebagian kecil di Nusa Tenggara. Saat ini, sudah ada delapan varietas yang dipasarkan. Lima diantaranya varietas benih jagung hibrida dan tiga lagi untuk padi hibrida. "Total ada 27 jenis varietas jagung hibrida yang sudah dikembangkan. Bahkan salah satu varietas benih padi hibrida sudah memiliki sertifikat khusus tanaman," katanya.

Yudi Hidayat, field manager central PT Pioneer Indonesia menambahkan, jumlah lahan yang ditanami benih hibrida saat ini sebanyak 10.000 hektar. Luas lahan tersebut naik dari tahun lalu yang hanya 8.500 hektar. Sedangkan khusus di Malang Raya, luas lahan yang ditanami sejumlah 2300 hektar, naik dari tahun lalu seluas 1900 hektar. "Lahan terluas kami di Sumberpucung, Malang yakni mencapai 600 hektar dengan kemampuan produksi 5 ton per hektar," ucapnya.

Idealnya rata-rata produksi benih hibrida tiap tahun sebanyak 6 ton per hektar. Namun, kemampuan pembenihan sebagian besar masih 3,5-4 ton per hektar. "Ada petani yang bisa menghasilkan sampai 10 ton per hektar, tapi jumlahnya tidak banyak. Fokus kami tahun depan adalah meningkatkan produktivitas, jadi tidak seperti tahun sebelumnya yang mengejar luas lahan," timpalnya.

Guna meningkatkan produktivitas tersebut, upaya yang ditempuh adalah memberikan harga kompetitif pada petani. Disebutkan, harga beli untuk benih hibrida dari petani bervariasi, semisal untuk three way mulai dari Rp 1.700-1.900 dan single cross Rp 2500-2900.

Jawa Pos