Pioneer
Choose a Country
in_IDIndonesia

Benih Jagung Hibrida Terlalu Mahal

Jakarta - Pemerintah meminta kepada produsen benih jagung swasta untuk tidak menjual benih jagung hibrida di Indonesia dengan harga yang terlalu mahal kepada petani. Tujuannya agar pendapatan petani dapat meningkat dan swasembada jagung dapat dipertahankan dalam lima tahun ke depan.

Demikian dikatakanDirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimuso dalam sambutannya saat peresmian perluasan fasilitas pabrik produksi benih jagung dan hibrida Pioneer seluas 8 hektare di Desa Krebet, Bululawang, Malang, Jawa Timur, Kamis (22/10). "Ke depan kita akan tetap pertahankan swasembada beras dan jagung yang sudah dicapai," ujarnya.

Menurut Sutarto, harga jagung hibrida Pioneer 1 yang dihasilkan PT Pioneer selama ini terlalu mahal, yaitu mencapai Rp 71.000 per kilogram. Padahal, lanjutnya, produksi benih Pioneer memenuhi 20%-25% (20.000 metrikton per tahun) kebutuhan nasional. Jika petani menggunakan jagung hibrida, kata Sutarto, dapat memberikan hasil lebih dari 7 ton per hektare, atau lebih tinggi dibandingkan jagung lokal yang rata-ratanya 5 ton per hektare.

Sementara itu, dirinya mengatakan provinsi Jawa Timur sebagai daerah penghasil pangan nasional terbesar khususnya jagung, di mana 30% dari produksi jagung nasional (17 juta ton dengan luas tanam 4 juta hektare per tahun) berada di Jawa Timur, sedangkan produksi padi di Jawa Timur mencapai 11 juta ton gabah dari produksi nasional (63 juta ton gabah), serta kedelai yang juga mencapai 30% dari produksi nasional (600.000 ton).

Selain itu, untuk kepentingan industri pangan, pakan, biofuel, sambung dia, jagung merupakan komoditas pangan yang memiliki potensi besar sehingga produksi jagung dalam lima tahun ke depan harus meningkat minimal 10%. Terkait hal itu, tambahnya, di tingkat lapangan petani didorong juga untuk memenuhi kebutuhan benih jagung sendiri, yang ditargetkan benih produksi petani dapat mencapai 80.000 ton, dan untuk path 350.000 ton.

Direktur PT Pioneer Indonesia Mardahana mengatakan, dalam upaya mempertahankan swasembada pangan di Indonesia, investasi yang ditanam perusahaannya mencapai US$ 11 juta. Perluasan fasilitas produksi benih, ungkapnya, akan meningkatkan kapasitas produksi benih jagung Pioneer menjadi 20.000 metrikton per tahun dan benih padi 5.000 metrikton per tahun.

Sinar Harapan, 23 Oktober 2009