Home >
 

Cuaca Ekstrem Butuh Bibit Jagung Andal

 

Problem cuaca dewasa ini cukup mengganggu produksi jagung nasional. Bahkan, akibat cuaca ekstrim sepanjang tahun 2010, Indonesia terpaksa impor jagung dengan volume yang cukup besar pada 2011.

Para produsen varietas pun berlomba-lomba menciptakan bibit jagung anyar yang mampu merespons tantangan iklim. Anak perusahaan PT. DuPont Indonesia, Pioneer Hi-Bred International, Inc., misalnya, meluncurkan varietas baru jagung hibrida Pioneer P27 Gajah.

Menurut Manager Pemasaran PT Dupont Indonesia, Danindra R Manungku, varietas hibrida P27 ini adalah pengembangan dari bibit jagung hibrida P21 terdahulu. Varietas terbaru ini diklaim memiliki sifat yang cukup menonjol, tongkol sangat muput, hasil panen tertinggi dan anti penyakit daun lainnya. "Ini bisa tetap dapat berproduksi baik di kondisi cuaca yang ekstrim dan lahan yang kurang subur," ujar Danindra saat peluncuran Pioneer P27 Gajah di Kediri, Sabtu (24/3/2012).

Dia mengatakan, rendahnya tingkat kesuburan lahan produktif dan cuaca yang ekstrim akhir-akhir ini menjadi kendala petani dalam meningkatkan produksi jagung. Bahkan, pola tanam yang tanpa diimbangi penambahan unsur hara yang sesuai, membuat kesuburan lahan semakin berkurang. Akibatnya, produksi semakin menurun.

Menyikapi permasalahan tersebut, dalam beberapa tahun terakhir pihak Pioneer Hi-Bred International, Inc., telah melakukan uji coba di seluruh wilayah di Indonesia. Hasilnya, varietas baru P27 Gajah ini dipastikan akan mampu menjawab berbagai persoalan tersebut.

Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman menunjukkan, untuk membudidayakan Jagung P27 dari Pioneer, kebutuhan unsur N, hanya sebesar 0,19 atau setara 0,42 kilogram pupuk urea, unsur P hanya 0,04 kilogram atau setara pupuk 0,01 kilogram dan Kalsium yang dibutuhkan hanya 0,04 kilogram atau setara dengan 0,27 kilogram pupuk. Sementara rata-rata produksi untuk Jagung Hibrida P27 ini cukup besar, berkisar antara 8 ton hingga 10 ton per hektar pipil kering.

Direktur PT DuPont Indonesia, Mardahana menambahkan, memang akhir-akhir ini cuaca cukup membuat petani kewalahan. Hasil yang tidak maksimal sepanjang 2010 akibat cuaca yang ekstri menyebabkan Indonesia terpaksa mengimpor jagung dengan volume yang sangat besar.

"Sebenarnya kita mampu swasembada. Namun akibat cuaca akhirnya hal tersebut tidak tercapai. Dengan varietas ini, kami yakin keinginan tersebut bisa tercapai karena selain tahan cuaca dan bisa ditanam di lahan yang kurang subur, benih jagung jenis ini tingkat produktifitasnya cukup tinggi," jelasnya.

Sumber: kabarbisnis.com

D09CFB50-C0CB-F1FB-C29B-7D96AB5072BF