Home >
 

Dupont Targetkan Jual Benih Jagung 3.000 Ton

MALANG—PT Dupont Indonesia, produsen bibit jagung, menargetkan dapat menjual benih jagung hibrida varietas baru, P35, sebanyak 3.000 ton pada 2016.

Marketing Manager & Biotechnology Lead Yuana Leksana mengatakan tahun ini target penjualan benih jagung P35 hanya dipatok 700 ton dengan asumsi masyarakat masih yang belum banyak mengetahui keunggulan kompetitif benih varietas tersebut karena baru diluncurkan tahun lalu. Benih tersebut baru dipasarkan Maret tahun ini.

“Sampai akhir Agustus 2015, kami sudah berhasil menjual bibit jagung varietas baru, P35, sebanyak 400-500 ton,” ujarnya di Malang, Selasa (22/9/2015).

Tahun depan, diharapkan dapat terjual 3.000 ton dengan asumsi masyarakat sudah banyak yang mengenal produk tersebut.

Keunggulan benih jagung P 35, kata dia, produktifitasnya jauh lebih tinggi, yakni 12,5 ton/hektare. Keunggulan lain, tanamannya tahan panas dan tahan penyakit bulai.

Integrated Operation PT Dupont Indonesia Benny Sugiharto menambahkan dampak serangan penyakit bulai bisa mengurangi produksi hingga 70% jika serangan di awal musim tanam.

Menurut Yuana, dengan menggunakan benih jagung P35, maka kekhawatiran serangan penyakit bulai dapat dihindari karena secara genetis tahan terhadap serangan penyakit tersebut.

Selain itu, dengan adanya bibit jagung varietas baru tersebut, maka petani mempunyai banyak pilihan disesuaikan dengan cuaca dan tanahnya.

Bibit jagung varietas P35 cocok di daerah kering seperti Tuban dan sekitarnya maupun yang kawasan yang sudah terserang penyakit bulai.

Sedangkan daerah yang relatif subur, seperti di daerah Matraman, yakni eks Karesidenan Madiun dan Kediri, lebih cocok menggunakan bibit varietas P21.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur Ahmad Nurfalakhi mengatakan diharapkan petani di Jawa Timur dapat menggunakan bibit jagung hibridah untuk meningkatkan produksi.

Produktifitas tanaman jagung menggunakan bibit jagung hibrida di Jawa Timur mencapai rerata mencapai 8 ton/hektare sedangkan menggunakan bibit jagung nonhibrida sebesar 2-4 ton/hektare.

Rerata produktifitas tanaman jagung di Jatim bartu mencapai 5,8 ton karena sebagian menggunakan bibit nonhibridah. Hal itu karena saat petani membutuhkan pupuk, barang tidak ada.

“Namun dengan bantuan aparat TNI, maka penyediaan pupuk bersubsidi saat ini lebih mudah sehingga produksi bisa meningkat,” ujarnya.

Berdasarkan angka ramalan (Angka Ramalan) II, produksi jagung di Jatimpada tahun ini mencapai 6,2 juta. Produksi sebanyak itu diserap untuk lokal sebanyak 500 ton/tahun dan untuk konsumsi pangan lokal 2.500 ton/tahun.

Selebihnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan ternak di Banten, Jawa Barat, Kalimantan, bahkan ekspor lewat Gorontalo.

“Untuk memasyarakatkan penggunaan bibit hibrida, kami membantu petani dengan menyediakan bibit hibrida untuk 100.000 hektare lahan, sedangkan tahun ini 93.000 hektare lahan,” ujarnya.

Sumber: surabaya.bisnis.com

BCC05403-2955-319D-FD45-B96B8213A344