Home >
 

Malaysia Minati Jagung dan Rumput Laut Indonesia

 

BUMN Malaysia menyatakan minat terhadap komoditas jagung dan rumput laut Kabupaten Bantaeng., kata Dato Muhammad Noh Chairman Marditec, perusahaan milik Negara di bawah kementerian BUMN Malaysia, saat melihat potensi kedua komoditas unggulan itu di Bantaeng, Sabtu.

Tamu dari negeri jiran yang diterima Wakil Bupati HA Asli Mustadjab dan para petinggi Kabupaten Bantaeng itu didampingi Ketua Asosiasi Petani dan Pengusaha Rumput Laut Indonesia (Asperli) Arman Hafsah.

Khusus kebutuhan jagung, Dato Muhammad Noh mengatakan, Malaysia membutuhkan cukup banyak. "Setiap tahun Malaysia butuh 12 juta ton yang diimpor dari berbagai negara," urainya.

Karena itulah, ia menyatakan minatnya terhadap produksi jagung di kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini. "Tinggal bagaimana menyesuaikan kualitas yang dibutuhkan sebab Malaysia memiliki standar sendiri (Malaysian Standard Lebel/MSL)," ujar Dato Muh Noh saat melihat potensi jagung di Desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke.

Selain melihat potensi jagung, rombongan dari Kementerian BUMN Malaysia juga menyaksikan alat pengering (Silo) yang ada di desa itu.

Menjawab keinginan itu, staf ahli Bupati Bantaeng bidang Pertanian Dr Mokhtar Nawir mengatakan, meski jumlah lahan di kabupaten berjuluk Butta Toa ini terbatas, namun produksi jagung cukup banyak.

Melalui bantuan teknologi yang sudah dikembangkan dalam kurun waktu setahun terakhir, petani bisa melakukan penanaman jagung sebanyak dua kali setahun. Dari penanaman tersebut, kini dicapai produksi 225 ribu ton/tahun.

Selain jagung, Marditec juga meminati komoditas rumput laut. Untuk memenuhi kebutuhan di sektor ini, Malaysia sudah menjalin kerjasama dengan Asperli. Melalui kerjasama tersebut, Asperli akan memenuhi kebutuhan Malaysia sebanyak 12 ribu ton/tahun, kata Ketua Asperli Arman Hafsah.

Ke depan, ia berharap kontrak kerjasama tersebut bisa ditingkatkan mengingat potensi rumput laut Sulsel yang cukup besar. Hanya saja, urainya lagi, kita membutuhkan teknologi pengering, terutama pada musim hujan.

Pada musim seperti sekarang, petani rumput laut kita kesulitan mengeringkan produksinya. Untuk itu, diperlukan teknologinya, terang Arman yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sulsel itu, saat menyertai Datok Muhammad Noh melihat panen rumput laut di Kaili, Kelurahan Bonto Lebang Kecamatan Bissappu.

Wakil Bupati Bantaeng HA Asli Mustadjab yang menjamu tamu dari Malaysia di rumah jabatan Bupati Bantaeng memperkenalkan potensi tiga dimensi yang dimiliki daerah ini.

Bantaeng yang merupakan Afdeling Belanda pada zamannya kini memasuki usia 756 tahun memiliki pertumbuhan ekonomi 6,73 persen. Dengan kondisi alam yang terdiri dari potensi pesisir dalam bentuk rumput laut, dataran rendah yang memiliki padi, jagung, kakao, kopi dan berbagai komoditi lainnya sedang di pegunungan kini dikembangkan strawberry dan apel serta berbagai jenis sayuran.

Sedikitnya 20 varietas padi, termasuk jenis hybrida kini sudah berhasil dikembangkan. Bahkan pola tanam Legowo-21 yang diterapkan berhasil meningkatkan produksi 2-3 kali lipat dari rata-rata 4 ton/Ha menjadi 8 - 12 ton/Ha.

Untuk komoditas jagung, terang Mokhtar, kini dikembangkan jenis hybrida yang sudah mencapai 20 persen. Penggunaan teknologi juga dilakukan dalam pengembangan rumput laut, tambah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan H Abdul Latief Naikang.

Menurutnya, produksi rumput laut Kabupaten Bantaeng saat ini mencapai 8 ribu ton dan akan ditingkatkan menjadi 10 ribu hingga 12 ribu ton/tahun. Untuk itu, pihaknya akan melakukan sonasi yang disertai penangkaran.

Chairman Marditec Malaysia Dato Muh Noh dalam sambutan balasannya mengatakan, hubungan baik antarnegara serumpun diharapkan dapat memperbaiki produksi maupun kualitas dari komoditas yang ada.

Marditec yang merupakan BUMN bidang pertanian selama ini banyak mengembangkan penelitian bebagai jenis komoditi. Karena itu, kedatangan kami juga ingin belajar bersama dalam pengembangan dan perbaikan produksi maupun kualitas komoditi pertanian yang ada di daerah ini, urainya.

"Bila memungkinkan, kita melakukan penelitian bersama untuk kebutuhan jangka panjang, baik untuk komoditi jagung, rumput laut, karet, kakao, sawit dan lainnya agar produk dari komoditas kita sesuai standar," terangnya.

Khusus rumput laut, Dato Muh Noh mengatakan, komoditi ini dibutuhkan seluruh dunia. Karena itu, penanganannya butuh perhatian. Untuk itu diperlukan penelitian bersama. Demikian pula dengan kopi dan yang lainnya.

"Kenapa kita tidak memproduksi kopi dalam bentuk kapsul," urainya memberi contoh. Untuk itulah, dibutuhkan pengkajian lebih lanjut agar harganya juga bisa lebih baik.

Dengan kondisi alam yang masih baik (natural), ia berharap terjadi transfer teknologi dalam bentuk penelitian bersama sehingga bisa dihasilkan produk komoditi yang berdaya saing tinggi. Marditec sendiri sudah banyak melakukan research dan diharapkan bisa dikembangkan ke daerah ini, tuturnya.(*)

Source antaranews

7882891B-F2F4-230F-2BF4-5209B2BA972C